![]() |
| Menyepi Untuk Menguat, Mengolah Data Untuk Memberdaya |
Oleh : Faurizal, S.T., M.M
Setiap perjalanan perubahan selalu memerlukan ruang hening untuk berpikir. Ada saat ketika langkah tidak harus terdengar bising agar tetap bernilai. JEP KUPI WANEUK hadir sebagai jeda yang tidak memutus kerja, hanya memindahkan panggung dari lapangan yang riuh menuju meja kecil dengan kopi hitam pekat yang mengepul.
Dalam kesunyian itu, seorang Tenaga
Pendamping Profesional mengatur siasat. Data-data yang terkumpul dari
Gampong diolah dengan cermat. Angka-angka yang tampak kaku berubah menjadi peta
masa depan. Semua dikerjakan dengan satu tujuan, memastikan masyarakat desa
tidak hanya tumbuh, melainkan berdaya di atas kakinya sendiri.
Kesunyian ternyata memiliki suara.
Suaranya berupa strategi pembangunan berbasis kebutuhan nyata masyarakat.
Suaranya berupa rencana pelatihan, pemberdayaan ekonomi, perbaikan pelayanan
dasar, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia desa. Suaranya juga berupa
keberanian untuk berkata bahwa setiap perubahan besar harus dimulai dari ruang
kecil yang mungkin tak terlihat orang banyak.
Tenaga Pendamping Profesional tidak bekerja sendiri. Ada pemerintah Gampong, dan
para Kader Desa yang terus bergerak. Mereka adalah jiwa-jiwa merdeka yang masih
percaya bahwa kemajuan desa adalah kemajuan bangsa. Semangat itu terus hidup
dalam secangkir kopi yang selalu hadir menemani saat data belum selesai
dihitung dan rencana belum tuntas ditulis.
JEP KUPI WANEUK mengajarkan bahwa pemberdayaan bukan hanya berbicara di
forum resmi atau turun ke lapangan memantau program. Pemberdayaan juga berarti
mengendapkan pemikiran sebelum dituangkan menjadi kebijakan. Setiap rencana
aksi yang tepat sasaran selalu melalui proses refleksi, kontemplasi, dan
interpretasi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kopi yang pahit mengingatkan bahwa perubahan tidak pernah semudah mencatat
angka di laporan. Terkadang ada hasil yang belum tampak. Terkadang ada
kebijakan yang harus direvisi. Terkadang ada warga desa yang masih ragu untuk
berdaya. Namun pahit itu justru membuat tekad semakin utuh. Pahit itu adalah
bagian dari perjuangan untuk menciptakan rasa manis di kemudian hari.
Hari esok desa harus lebih jelas
arahnya. Perencanaan pembangunan tidak boleh sekadar memenuhi kewajiban
laporan. Setiap data yang dikumpulkan akan melahirkan keputusan yang menentukan
hidup banyak orang. Setiap rekomendasi menjadi cahaya bagi pemerintah Gampong
agar lebih tajam melihat prioritas pembangunan.
Selama masih bersama jiwa-jiwa yang
merdeka dalam pemberdayaan, menyepi bukan berarti menjauh dari masyarakat.
Justru di balik kesunyian itu sedang tumbuh kekuatan baru. Kekuatan yang siap
kembali ke lapangan, berdiskusi dengan warga, memfasilitasi musyawarah,
mengawal penganggaran, dan memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang
tertinggal.
JEP KUPI WANEUK menjadi ritual
sederhana yang menyuburkan harapan besar. Tempat di mana Tenaga Penadamping Profesional menyiapkan diri untuk babak perjuangan berikutnya.
Kopi terus mengepul, semangat terus menyala, dan desa terus berjalan menuju
kemandirian yang nyata. (Faurizal,S.T.,M.M adalah Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kota Lhokseumawe)
