![]() |
| Imum Mukim Lhokseumawe Bersemangat Menjelaskan terkait Gampong, Adat dan Budaya di Kota Lhokseumawe |
LHOKSEUMAWE - Upaya menggali dan mendokumentasikan kekayaan budaya serta kearifan lokal masyarakat Gampong di Kota Lhokseumawe terus dilakukan. Dalam rangka mempersiapkan penyusunan Monografi Gampong Budaya, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kota Lhokseumawe melakukan pertemuan dengan Imum Mukim Lhokseumawe Utara, Drs. Anwar Harun, M.Si., di Kantor Imum Mukim Lhokseumawe Utara, 16 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri TAPM Kota Lhokseumawe, Faurizal, S.T., M.M. dan Ir. Muhammad Ismail. Diskusi berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan, dengan fokus menggali informasi serta memperoleh masukan terkait sejarah, adat istiadat, kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat.
Drs. Anwar Harun, M.Si., selain menjalankan perannya sebagai Imum Mukim Lhokseumawe Utara, juga merupakan pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Pengetahuan dan pengalamannya mengenai kehidupan sosial masyarakat dinilai penting dalam memberikan gambaran mengenai berbagai warisan budaya yang berkembang dan masih dipertahankan masyarakat.
Berbagai hal menjadi bahan diskusi, mulai dari sejarah dan perkembangan mukim, adat istiadat, tradisi masyarakat, kelembagaan adat, nilai-nilai sosial, hingga berbagai kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Faurizal mengatakan, penyusunan Monografi Gampong Budaya merupakan bagian dari upaya untuk mengenali, mendokumentasikan dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat.
“Setiap gampong memiliki cerita, sejarah, adat istiadat dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakatnya. Banyak di antaranya yang masih hidup dalam praktik keseharian, tetapi belum terdokumentasikan dengan baik. Karena itu, melalui monografi ini kita ingin menggali dan mencatatnya secara lebih sistematis,” ujar Faurizal.
Menurutnya, penyusunan monografi tidak cukup hanya mengandalkan data tertulis. Informasi dari tokoh masyarakat, Imum Mukim, pemangku adat, Keuchik, serta masyarakat yang mengetahui sejarah dan tradisi setempat sangat diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
“Pertemuan dengan Imum Mukim Lhokseumawe Utara ini menjadi bagian dari proses tersebut. Kita ingin mendapatkan masukan dari orang-orang yang memahami sejarah, adat dan kebudayaan masyarakat, sehingga apa yang kita tulis nantinya benar-benar menggambarkan kekayaan budaya yang ada di Gampong,” katanya.
Faurizal menjelaskan, monografi yang sedang dipersiapkan bukan sekadar dokumen administratif atau catatan tentang masa lalu. Lebih dari itu, monografi diharapkan menjadi media untuk menyimpan pengetahuan dan identitas masyarakat agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Kita berharap monografi ini nantinya bisa menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya. Anak-anak muda perlu mengetahui dari mana mereka berasal, bagaimana sejarah masyarakatnya, adat apa yang diwariskan dan nilai-nilai apa yang dapat terus dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam proses penggalian data nantinya, TAPM akan melihat berbagai unsur yang membentuk kehidupan budaya masyarakat. Tidak hanya tradisi dan adat istiadat, tetapi juga keberadaan masjid dan meunasah, situs atau tempat bersejarah, kesenian, kuliner, tradisi keagamaan, praktik sosial masyarakat serta berbagai bentuk kearifan lokal lainnya.
“Yang ingin kita dokumentasikan bukan hanya benda atau tempatnya, tetapi juga nilai yang ada di baliknya. Apa maknanya bagi masyarakat, bagaimana diwariskan, siapa yang menjaganya, dan bagaimana nilai tersebut masih relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang,” jelas Faurizal.
Pertemuan dengan Imum Mukim Lhokseumawe Utara menjadi salah satu tahapan dalam proses persiapan penyusunan Monografi Gampong Budaya. Masukan dari tokoh adat dan pemerhati kebudayaan diharapkan dapat menjadi bahan penting bagi TAPM untuk menentukan berbagai informasi yang perlu ditelusuri dan didalami melalui wawancara serta diskusi dengan masyarakat.
Melalui proses tersebut, Monografi Gampong Budaya diharapkan tidak hanya menjadi sebuah tulisan, tetapi menjadi dokumentasi yang mampu merekam identitas, sejarah dan kekayaan budaya masyarakat. Pada saat yang sama, monografi diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda serta mendukung pembangunan Gampong yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
